Al Hijr, Madain Saleh tour

Disadur kembali oleh Karlina

provinsi medina

provinsi medina

Provinsi Madinah, Saudi Arabia

Rumah-rumah pahatan yg ada di perut bukit dan gunung yg ada di kawasan ratusan hektar Madain Saleh terserak dan terpencar di banyak lokasi.  Setiap lokasi perumahan atau lokasi pemakaman dalam perut gunung dan batu memiliki namanya sendiri-sendiri,  oleh Dinas Arkeologi Saudi loksi rumah-rumah batu itu diberi nomor urut disamping nama berdasarkan nama kawasan. Misalnya kawasan pemakaman bernama Qasr Sayid yg terletak di sisi selatan situs Madain Saleh,  lainnya Qasr Al Fareed, Qasr Al Bint, Qasr Alajooz, Qasr Assanea, kawasan Jabal Ethlib, Jabal Mahjar, Jabal Al Khuraymat dan lain-lain.  Semua nama itu menununjukkan satu lokasi tersendiri di dalam situs Madain Saleh.  Dari arah selatan ke utara situs Madan Saleh juga meninggalkan jejak bekas jalur rel kereta api – Hejaz Railway.  Hejaz Railway Station dan Museum Railway ada di gerbang pintu masuk utama di utara (kami masuk dari pintu gerbang selatang).

Dari satu lokasi ke lokasi dihubungi jalananan yg bisa dikendarai mobil, kadang mendatar kadang menaiki bukit landai. Jalanan tersebut deperti di tulisan saya sebelumnya masih dalam taraf awal persiapan dasar pengaspalan.  Karena berseraknya lokasi arkeologi tersebut maka cara satu-satunya agar bisa mendatangi semua tempat ialah dengan memutarinya lewat teknik “menyusuri labirin”.   Teknik menyusuri ini dilakukan dgn menyusuri lokasi dimulai dari satu titik yg ada di sebelah kiri (kalau mau memulainya dari sebelah kiri) kemudian terus menyambangi setiap lokasi yg selalu berada di sebelah kiri dengan mengikuti jalan mobil atau jalan setapak,  karena kawasan Madain Saleh berpagar dan secara keseluruhan seperti bentuk bundar, maka dengan cara seperti itu suatu saat akhirnya nanti penyisiran akan berakhir di bagian kanan di titik awal kita mulai.  Dengan begitu semua tempat situs terkunjungi dan tidak perlu main random, adapun lokasi arkeologi yg terserak di bagian tengah tetap bisa terkunjungi semua dengan cara zigzag atau cara menyusuri labirin juga, atau terserah pilihan mana yg disukai,  lagi pula semua lokasi situs bisa didatangi oleh mobil, paling tidak untuk lokasi yg ekstrim kendaraan 4×4 akan bisa mengatasinya.  Kalau ada peta lokasi situs akan lebih baik, peta ini bisa diperoleh di pintu gerbang masuk, kalau tidak biasanya hotel menyediakannya.  Saya sendiri mencomot satu peta lokasi ini di loket pintu masuk (disediakan di situ secara gratis) demi pertimbangan untuk mengetahui posisi geografis dan nama-nama situsnya agar mempermudah gerak jelajah medan!  ;)

Dengan cara seperti dijelaskan di ataslah saya memulai secara satu persatu menyatronin rumah-rumah di perut batu dan gunung  kawasan Madain Saleh tersebut,  tentu saja tidak secara marathon kecuali diselingi berhenti untuk rehat sambil menikmati apa yg bisa dilihat si lingkungan sekitar.

Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di Quran di antaranya surah Al-Araaf ayat 73-79 , surah Hud ayat 61-68, surah Al-Qamar ayat 23-32, surah Al Hijr ayat 80-84.  Pendapat pribadi saya,  demi pembelajaran bagi generasi muda maka apabila punya kesempatan cocoklah untuk membawa keluarga ke Madain Saleh, menunjukkan pada mereka keberadaan cerita Quran itu ada jejaknya dan semoga dengan kunjungan wisata arekeologi akan makin mempertebal keimanan keluarga yg diajak serta.  Kisah kaum Tsamud  yg ada di Quran memiliki jejak nyata untuk bisa dilihat mata kepala setelah hal itu diriwayatkan di Quran.

Cerita dalam Quran itulah salah satu motivasi saya ingin melihat “kota” Madain Saleh, ingin menyaksikan sendiri jejak-jejak kaum yg mendurhakai kebenaran yg ditawarkan pada mereka yg karena kedurhakaan mereka Allah menurunkan azab sehingga lenyaplah kaum Tsamud di muka bumi.  yang tinggal adalah sisa-sisa keahlian mereka mamahat gunung untuk dijadikan tempat tinggal maupun kuburan seperti yg kini bisa disaksiskan di Madain Saleh.

**

Kami bukan satu-satunya pengunjung waktu itu,  selalu ada saja mobil yg datang melintas membawa pengunjung lain. Kadang-kadang kami bisa bersamaan melihat-lihat satu bangunan, pada saat lain saya dan keluarga saya sajalah yg ada di tengah suasana sepi dan lengang.  Wisatawan datang dari berbagai negara meski wisatawan lokal juga tidak sedikit datang mengangkut seisi keluarganya.  Yang datang secara pasangan pun ada,  baik pasangan berlainan jenis atau dua orang saja.  Seperti dua anak muda yang saya jumpai, mereka penduduk kota Ha’il,  yg satu sebagai pembawa jalan dan seorang lagi tukang potret.  Saya sempat ngobrol dengan kedua pemuda ini di satu lokasi,  sama-sama sibuk motret, dan tentu saja kesempatan bagi saya meminta jasa mereka memotret saya!

Ada sebagian penduduk lokal bagi mereka tanah kawasan Madain Saleh dianggap lokasi kutukan Allah.  Asumsi ini juga ternyata menyebar ke orang lain di luar Saudi dan sempat mempengaruhi isteri saya juga,  istri saya berkali-kali menyatakan kawasan arekeologi Madain Saleh sebagai tanah kutukan,  entah bacaan dari mana isteri saya memperoleh kesan seperti atau bisa jadi dapat cerita opini dari mulut ke mulut, wallahu a’lam.  Kata isteri saya lagi, orang Saudi sendiri tidak mau menginjak tanah Madain Saleh dan mewanti-wanti saya untuk tidak menginap di Al Ula sebelumnya.   Bagi saya asumsi tanah Madain Saleh adalah tanah kutukan benar-benar isapan jempol,  atau kesimpulan khayal belaka yg tak ada nash dan dasarnya sama sekali.  Saya katakan pada isteri, kalau apa yang orang-orang lain katakan itu benar tapi mengapa hingga detik ini sebagian tanah-tanah di antara gugusan bukit dan bangunan lokasi arkeologi Madain Saleh dijadikan lahan pertanian yg berarti ada orang yang datang bekerja di situ?  Di mana sisi keterkutukannya kalau hal itu membuat orang takut menginjak tanah di daerah itu?   Saya jelaskan pada isteri, yg benar ialah Allah SWT tidak pernah mengutuk bumi dan langit,  yang pernah dan ada dalam sejarah ialah Allah menrunkan ajab dan hukuman pada manusia yang ingkar,  bukan mengutuk tanah dan gunung!  Sebaliknya justru bumi dan langit itu bertasbih menyebut kebesaran nama Allah.  Inilah fakta yang benar, jadi tidak ada alasan logis dan alasan fikih untuk menjauhi kawasan Madain Saleh.

**

Tidak dipungkiri, selama berada di kawasan Madain Saleh, dibantu oleh iklim cuaca yang mendung karena ketebalan kabut debu memberi kesan makin mistis.  Lengang dan sepi.  Bahkan tidak terdengar adanya nyanyian burung dari kejauhan, entah pada ke mana semua makhluk yang bisa terbang saat itu.  Apa karena cuaca yang mencekam dan berkabut sehingga burung-burung itu terbang ke celah pegunungan?   Sambil menyetir, sambil berjalan, sambil melihat detil-detil isi ruangan di perut gunung dan bukit, saya kadang sesekali merasa dihinggapi aroma mistis tersebut.  Pernah juga bulu kuduk berdiri ketika sendiri saja di dalam ruangan di perut bukit yang dijadikan tempat tinggal kaum Nabi Shaleh 4000 tahun lalu,  apalagi sesekali masuk ke ruang yang konon katanya tempat penguburan. Imajinasi terbang ke ribuan tahun silam mencoba dengan keras kira-kira seperti apa keseharian penghuni rumah-rumah gua batu yang ada sana.  Seperti apa ketika mereka di musim panas atau dingin? Seperti apa mereka melakukan aktifitas sehari-hari di dalam gua rumah batu?  Pakai alas sejenis apa?  Karpetkah?  Atau kalau tikar apa terbuat dari daun korma? Kenderaan apa yg ada saat itu?  Apa jalanan berkerikil dan pasir sama saja dulu dan sekarang?  Sesubur apa pertanian dulu dan apakah masih sama kondisinya dengan yg sekarang?  Ada seribu satu macam khayal dan pertanyaan setiap kali memperhatikan bangunan itu semua. Bertanya-tanya dalam hati seperti itu pernah terjadi ketika saya mengunjungi Petra, di Jordan karena keadan Madain Saleh memiliki kemiripan yg sangat dekat.  Imajinasi orang yang datang ke sana mau tidak mau terpaksa mencoba mereka-reka ulang dan membayangkan seperti apa kehidupan manusia kala itu ribuan tahun lalu.

Saya berikut keluarga meninggalkan kawasan Madain Saleh setelah lewat waktu ashar,  keluar dari kawasan ini harus kembali ke pintu gerbang masuk semula.  Dari mana masuk dari situ keluar.  Jam kunjung terbatasi hingga pukul 6 sore saja, sebelum waktu itu maka pengunjung harus sudah meninggalkan lokasi Madain Saleh.  Untuk sampai kembali ke kota Al Ula bisa tidak melalui jalan rute keberangkatan, tapi jalan memutar dari arah selatan Madain Saleh,  jadi begitu keluar dari pintu gerbang tiket terus lurus saja dan begitu jumpa simpang tiga ambil arah kanan, dengan menyusuri terus jalan tersebut nanti akan sampai ke kota Al Ula dari arah selatannya.  Sepanjanga jalan pulang ke arah kota Al Ula dari selatan memberikan pemandangan di mana di kiri-kanan berserakan gunung dan bukit batu dengan bentuk yang artistik, cukup mengasyikkan apalagi jalannya kadang membelok membentuk tikungan baik menanjak maupun menurun.   Selang beberapa jarak tertentu kebun kurma yang subur selalu saja membelah kegersangan gurun di celah gunung dan bebatuan. Sejam sebelum matahari terbenam kami sudah kembali di Madain Saleh Hotel, Al Ula.  Berakhirlah tour Madain Saleh hari itu, besoknya sebetulnya masih ada waktu mengunjungi museum tapi rencana itu saya batalkan.  Besok rencanya akan bangun pagi dengan berleha-leha dan santai, baru menjelang siang meneruskan perjalanan ke arah timur, menyinggahi Istana Qislah.

 

 

This entry was posted in Perjalanan, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s