Adventure | Pegunungan Marang

Sebuah Pengalaman Berharga

Disadur kembali oleh Karlina

kawasan karst di kalimantan timur

kawasan karst di kalimantan timur

 

Pagi itu di belakang rumah yang nyaris seluruh bangunannya terbuat dari kayu ulin terdengar raungan mesin motor yang tersambung pada perahu ketingting. Hari itu, kami, tim telusur goa Mapala UI, akan memulai perjalanan menuju daerah karst Pegunungan Marang, Kalimantan Timur.

Rombongan perjalanan terdiri dari lima anggot Mapala UI, yakni Ahmad Maliyan (alumnus FMIPA UI), Fabius Bondan (mahasiswa FIB UI), Disa Pramaristi ( mahasiswa FMIPA UI), Ade Saptari (mahasiswa FKM UI), dan saya, Mohamad Ismatullah (mahasiwa FISIP UI).

Pada perjalanan kali ini, tim Mapala UI dibantu dua mahasiswa Universitas Mulawarman, Kabir dan Sapala, serta dua penduduk local Desa Bengalun, Pak Tewet dan Pak Uun, sebagai penunjuk jalan. Rencananya dalam Ekspedisi Telusur Goa Marang, Pegunungan Marang, Kalimantan Timur 2010 pada 26 Juli-12 Agustus 2010 ini, mereka akan mengekplorasi empat goa, yaitu Goa Tebo, Goa Ham, Goa Sedapan Marang, dan Goa Tanah Liat.

Untuk mencapai area ini memang termasuk kondisi sulit dalam tingkat pengeksplorasian katagori dapat dijelajahi. Mereka harus menyelusuri Sungan Bengalun hingga Sungai marang dengan perahu ketinting, yang panjangnya sekitar 5 meter dan lebar tak lebih dari 1 meter. Perjalanan lalu dilanjutkan dengan menelusuri bukit karst di Pegunungan Marang.

Perjalanan mereka dimulai dari Desa Bengalun, Kutai Timur. Setiap rumah di desa ini dengan bahan dasar terbuat dari kayu jenis keras yaitu kayu ulin dan dikenal dengan sebutan  popularnya yaitu kayu besi dan halaman rumah bagian belakang penduduk desa ini  merupakan aliran Sungai Bengalun.

Dari sungai Bengalun menuju Sungai Marang memerlukan waktu tempuh berkisar dua hari perjalanan dengan menggunakan perahu ketingting tersebut. Perjalanan ini tentunya terasa sangat melelahkan karena kondisi cuaca sangat terik. Bentuk perahu yang langsing membuat mereka tak leluasa menggerakan badan.

Baru setelah memasuki desa terakhir, Desa Amburbatu, kelelahan mereka sedikit demi sedikit tergantikan dengan pemandangan indah kawasan hutan tropis Kalimantan. Rimbun pepohonan di pinggir sungai membuat Susana terasa amat sejuk. Mereka juga melihat beberapa satwa hutan tropis Kalimantan, seperti elang rusa dan bekantan.

Berjalan Kaki

Setelah menggunakan ketinting selama dua hari, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menelusuri spot kecil hutan tropis Kalimantan untuk mencapai goa pertma, Goa Tebo, untuk merenkuhnya, dibutuhkan waktu perjalanan berkisar setengah hari perjalanan menembus semak belukar hutan tropis ini.

Goa Tebo merupakan sebuah goa horizontal, di dalamnya mengalir sungai berair jernih yang berujung di sungai marang. Goa Tebo sendiri berbentuk lorong sungai yang membelah salah satu bukit karst di Pegunungan Marang.

Untuk menelusuri goa ini diperlukan ketahanan fisik yang baik yaitu dengan berjalan kaki melawan arus sungai yang mengalir cukup deras menuju pintu msauk Goa Tebo. Ornamen-oranamen natural kreasi asli penciptaan daya alam yang memikat terhampar indah didalam goa ini. Di tengah area goa ini juga terdapat sebuah pintu masuk vertical dengan ketinggian mencapai belasan meter. Pintu ini menghubungkan dasar goa hingga ke atas bukit. Dari pintu ini pula sinar mentari menerobos membentuk seberkas cahaya yang memesona hingga menembus dasar goa.

Setelah menelusuri goa tabo ini dalam semangat naluriah manusia yang menyatu dengan alam sekitarnya tanpa berlama-lama mereka melanjutkan perjalanan menuju goa ham di lereng bukit Cikenceng. Untuk mencapai lokasi goa ham ini dibutuhkan pendakian yang tak kalah melelahkan untuk menaklukan bukit karst yang terjal setinggi 400 meter.

Selain memiliki ketinggian dengan slope terjal, bukit ini juga diselimuti batu-batu karst yang membuat “team” harus ekstra hati-hati mendakinya. Namun sesampainya mereka di atas bukit, kelelahan tergantikan dengan pemandangan alam kreasi dan ciptaan Yang Maha Kuasa yang patut disukuri dengan keindahan yang menggetarkan sukma, sungguh teramat indah diceritakan dalam bingkai kata-kata.

Tak seperti di daerah karst lain yang kering dan tandus, daerah karst pegunungan marang ini rimbun dengan pepohan hijau khas hutan tropis Kalimantan Indonesia, dimanan pepohonan ini membentang menyelimuti dan memberi kehangatan dan kesejukan dalam kadar oksigen murni untuk menelingkup bukit karst yang berdiri angkuh.

Cetakan Tangan Manusia.

goa-marang-lukisan-mangkalirangGoa Ham memiliki ruangan besar dengan lorong-lorong labirin kecil di dalamnya. Yang menarik di Gua Ham ini adalah cetakan tangan manusia purba pada dinding-dinding nya.

 Ukuran cetakan tangan manusia purba ini amat beragam, ini menunjukkan bahwa dahulu Goa Ham ini merupakan rumah atau stasi bagi aktivitas manusia purba. Letak Goa Ham di lereng bukit membuat manusia purba ini merasakan keamanan dan kenyamanan limpahan karunia Alam dan berdampingan dengan binatang-binatang buas yang ada pada jamannya.

 

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s