LANGGAM WISATA

SENANDUNG DAWAI SAWAI, disadur dari Kompas, Kamis, 28 Agustus 2014, teks asli oleh MI Rani Adityasari

BY Karlina

sawaiApa yang menjadi kebanggaan orang Maluku? “ Laut. Kami punya laut tujuh warna!” ujar Tari Tuasikal (23), warga asli Sawai, Maluku Tengah, setengah berpromosi pada dua orang teman dari ibu kota yang baru saja tiba di kota kelahirannya.

UNGKAPAN Tari tak bisa dikatakan berlebihan. Predikat laut tujuh warna disematkan untuk taman bawah laut di perairan Maluku yang begitu cantik dengan warna-warni koral dan ikan-ikan terumbu karang yang berkerumun diantara koral. Tak mengherankan jika perairan Maluku menjadi buah bibir di kalangan petualang dunia. Sementara di permukaan pun tak kalah membuat mata terbuai dengan keindahan pasir putih ditemani riuh jajaran nyiur sepanjang pantai.

Gara-gara keindahan lautnya pula, kini semua orang mengenal sebuah pulau kecil di balik bukit Taman Nasional Manusela yang sebelumnya tak banyak terjamah wisatawan. Ora. Ya, nama Ora kini selalu disebut-sebut sebagai salah satu destinasi wajib dikunjungi, terutama di kalangan anak muda. Setiap mata terenyak dengan keindahan warna hijau dan biru laut di sekeliling Ora. Sementara air laut begitu jernih sehingga keindahan taman bawah lautnya bisa dinikmati dengan mata telanjang, bahkan dari atas dermaga.

Perjalanan menuju Ora sendiri telah membetik adrenalin. Setelah mendarat di Ambon, perjalanan dilanjutkan dengan kapal laut menyeberang ke Masohi, ibu kota Pulau Seram. Lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 3-4 jam hingga tiba di Desa Sawai. Perkampungan nelayan ini biasa menjadi titik penyeberangan menuju Ora, dengan menyewa perahu. Hanya beberapa menit, lalu tibalah di satu-satunya resor yang memiliki peran utama mengangkat nama Ora menjadi destinasi favorit selama kurang lebih dua tahun terakhir.

Jika sudah berada di sini, kegiatan utamanya tak lain adalah berjemur di atas pasir putihnya yang lembut, snorkeling hingga ke beberapa titik, atau diving. Bisa juga sekadar makan siang di Pulau Losalau yang tak berpenghuni, lalu sembari mencari titik-titik tepat untuk menikmati taman bawah laut, mampir ke air terjun Belanda yang memiliki air tawar dan begitu dingin, serta ke tebing Ora yang legendaris.

Pak, Ali, warga lokal pemilik penginapan Lisar Bahari di Sawai yang telah berdiri selama hampir 20 tahun mengatakan, jumla wisatawan yang datang semakin banyak. Kunjungan turis asing umumnya juga lebih lama. Bahkan, tak jarang wisatawan yang menyewa perahunya untuk sekaligus menuju Raja Ampat, Papua Barat. Maklum, jarak Sawai menuju Raja Ampat hanya sekitar tiga jam. Ah, siapa yang tak tergoda?

This entry was posted in LANGGAM, Perjalanan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s