Jalan-jalan |Menikmati “Rekaman” Aachen, Memahami Jati Diri Kota

By Karlina dari Kompas |Sabtu, 2 Agustus 2014, oleh Mukhamad Kurniawan

Digital StillCameraDI kota ini, identitas dan “takdir” kota terawatt dengan baik. Bangunan bersejarah, mata air hangat, serta hijaunya alam mampu bertahan dan hidup berdampingan dengan kemajuan zaman. Inilah, Aachen, kota paling barat di Jerman yang berbatasan dengan belgia dan Belanda, kota utama kerajaan dengan dimensi Eropa pada era kaisar Karel Agung atau Charlemagne.

Bus yang saya tumpangi dari Frankfurt beringsut pelan begitu tiba di Aachen, jerman, senin (7/7) siang. Ladang pertanian, hutan dan bukit-bukit berselang-seling mengisi pemandangan di luar jendela bus. Namun, suasana segera berganti saat tiba di pusat kota. Bangunan modern dengan jendela lebar berderet rapi, pejalan kaki lalu-lalang di trotoar, serta taman tersebar di beberapa sudut kota.

Pada sisi lain, bangunan tua dengan arsitektur khas menyita pandangan. Salah satunya Katedral Aachen, yang puncaknya lancip menjulang di antara gedung-gedung lain. Ada pula bangunan balai kota Aachen, Haus Lowenstein, dan Elisenbrunnen yang telah menjalani masa selama berabad-abad. Bangunan itu seolah menegaskan bahwa Aachen menyatukan tradisi dan kemajuan.

Aachen ist liebe auf den ersten blick (Aachen adalah cinta pada pandangan pertama).” Demikian tulisan di sebuah brosur wisata tentang kota Aachen. Sekilas pandang, benar juga kalimat itu. saya terpikat oleh kesan sekilas tentang kota ini.

Tata kotanya, pepohonan, trotoar, taman, dan jalanan yang memanjakan pejalan kaki. Nyaman untuk berlama-lama duduk di luar ruang, serta jalan atau lari-lari keicl di lintasan jogging yang ada di taman.

Annete Dotter, pemandu dari Aachen Tourist Service mengajak saya dan belasan jurnalis dari Korea Selatan, China, Malaysia, India, Turki, Singapura, dan Thailand, jalan kaki menikmati kota tersebut. Kami diundang ZF Friedrichshafen AG, produsen komponen otomotif asal Jerman, bertajuk ZF Global Media Trip 2014.

Annete merekomendasikan kami jalan kaki, satu cara paling populer untuk menikmati Aachen. Lagi pula, obyek-obyek wisata yang biasa dikunjungi di pusat kota ini dapat dijangkau dengan jalan kaki dalam hitungan menit. Selain itu, suhu udara musim panas yang berkisar 13-18 derajat Celsius waktu itu, sangat ideal untuk keluar dan berjalan kaki, terutama bagi orang-orang Asia.

Katedral Aachen

aachen-cathedralSore itu, kami memulai perjalanan dari Hotel Pullman Quellenhof di Monheimsallee, Aachen. Tujuannya, jantung kota, lokasi Katedral Aachen berada. Setelah menyeberangi taman kota di MOnheimsallee, janalan naik-turun mengikuti topografi lahan, melalui deretan toko, dan beberapa persimpangan jalan utama. Saat mendekati lokasi, kerumunan orang dan pejalan kaki bertambah banyak.

Tak sampai 15 menit, kami sudah tiba di halaman Aachen Cathedral atau Kaiserdom, katedaral dengan kapel kekaisaran yang menjadi penanda kota Aachen. Dari kejuahan, bangunan ini tampak kecoklatan, terlihat kontras dengan beberapa bangunan modern di sekitarnya. Dari jarak 1-2 meter, batu-batu dan material penyusun Katedral Aachen terlihat sangat tua, ada warna hitam sisa kebakaran.

Bangunan dengan kubah berbentuk segi delapan ini dibangun pada era kekuasaan kaisar karel agung tahun 786 masehi. Karel Agung mewujudkan mimpinya membuat bangunan bergaya Roma di Aachen. Kapel dengan ketinggian interior leibh dari 31 meter merupakan bangunan kubah tertinggi di utara pegunungan alpen selama lebih dari 200 tahun.

Gereja ini tempat penobatgan leibh dari 30 raja Jerman, situs pemakaman Karel Agung, gereja ziarah utama, dan katedral keuskupan Aachen sejak 1930. Gereja itu sekaligus bagnunan pertama di Jerman yang masuk dalam daftar warisan budaya oleh organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan PBB (Unesco).

Peter Lemoine, salah satu pemandu di katedral itu, mengizinkan kami masuk untuk melihat lebih dekat interior bangunan. Namun, dia meminta kami mematikan atau mengbuah stelan telephon ke nada getar, tidak berisik, serta mengikuti arahan pemandu, termasuk urusan memotret obyek di dalamnya. Aturan itu diberlakukan juga secara umum.

Kami masuk melalui pintu barat yang menjadi pintu utama katedral. Peter mengatakan, sejumlah ikon sarat makna mulai dari gerbang, seperti dua kepala singa berbahan perunggu di daun pintu utama, patung serigala, kerucut pinus, hingga bentuk octagon di tengah katedral yang dibangun sebagai Istana Aachen.

Sejarah Kota

aachen-grashausSelain katedral, Karel Agung meninggalkan jejak-jejak bersejarah di Aachen. Salah satunya balai kota Aachen. Menaranya berasal dari zaman Karel Agung abad ke-8, kemudian warga membangunnya pada awal abad ke-14. Sejak itu, balai kota Aachen mengalami beberapa kali perubahan, terutama pada gaya bangunan dari gotik ke barok, kurun abad ke-17-18. Di lokasi ini, penghargaan karl diberikan untuk prestasi luar biasa bagi saling pengertian dan persatuan eropa.

Selain balai kota dan katedral, ada bangunan bergaya gotik berusia tua di Aachen, antara lain Haus Lowenstein di daerah Markt. Bangunan ini diperkirakan selesai dibangun tahun 1345 dan bertahan dari kebakaran kota tahun 1656.

Selain itu, ada Grashaus di Fischmarkt yang fasadnya berasal dari balai kota awal (sebelum perubahan), Istana Buchelpalais di Jalan Buchel yang diperkirakan selesai dibangun pada tahun 1338, serta sisa tembok dan gerbang dari abad ke-13.

Tak hanya bangunan, mata air panas yang tgelah dimanfaatkan selama lebih dari 2.000 tahun bertahan di kota ini. Pada era Karel Agung, Aachen sudah terkenal dengan sumber airnya yang dianggap menyembuhkan karena kandungan mineralnya. “Takdir” itu menjadikan Aachen sebagai kota permandian.

Sayang, rombongan kami tak sempat mengunjungi bangunan tua dan lokasi-lokasi wisata itu satu per satu. Namun, Aachen tak melulu bangunan tua dan museum. Kota ini juga terkenal sebagai kota pendidikan.

Kota Aachen kiranya mewakili kota sebagaimana dimaksud Guru Besar Aristektur Universitas Diponegoro (Alm) Eko Budiharjo dalam Reformasi Perkotaan, “Kota yang baik adalah kota yang bisa menyuguhkan sejarah kota dari waktu ke waktu secara kasatmata, fisik dan visual.”

Bangunan kuno adalah cermin sejarah kota, jati diri yang menciptakan rasa keberlanjutan, tempat, dan menumbuhkan kebanggaan bagi warganya. Bagi saya, Aachen layak jadi contoh. Silakan datang untuk menikmati rekaman kasatmata sejarah Aachen!

This entry was posted in vacation and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s