1001 Pesona Kawasan Karst

Sangkulirang

Original text by Dr Pindi Setiawan, disadur kembali oleh Karlina

gunung kulat kabupaten kutai timur

gunung kulat kabupaten kutai timur

Sangkurilang-Mangkalihat merupakan kawasan karst nan luas di Kalimantan Timur, kurang lebih 350 km sbelah utara Balikpapan. Menurut ahli karstologi dan speleologi Dr Robby KT Ko, lorong alam umumnya berada pada kawasan karst. Lorong yagn disebut gua itu merupakan hasil dari proses air yang mengikis berjuta tahun bebatuan karst. Kawasan ini memiliki tebing-tebing gunung dan ribuan menara karst menjulang tinggi bak berlomba mancakar langit. Melihatnya dari udara dengan helikopter, dan mendarat di paparan karst ‘lapiza’ ini seperti terjun ke planet antah berantah sebagaimana digambarkan dalam cerita film star trek.

Baigan paling barat memperlihatkan deretan beg-wall yang tingginya ratusan meter. Dari keberadaan ribuan gua kecil-besar, maka gunung-gunung karst Sangkulirang-Mangkalihat jelas telah jutaan tahun menjadi tangki air utama bagi kawsan pesisir. Kelimpahan air itu mengalirkan sungai-sungai utama yang meliuk menghindari bebatuan karst, kadang membentuk air terjun, riam atau ngarai berbatu putih. Sungai-sungai kemudian saling bertemu dan membesar, berkelok membelah kehijauan hutan dan rawa menuju pesisir timurnya. Sungai-sungai karst dipenuhi dengna berbagai jenis ikan, udan, kura-kura, dan buaya sungai. Pantai di pesisir timurnya ditopang larutan subur mineral dari gunung karst, menjadi surga bagi buaya-buaya muara raksasa dan temapt bermain berbagai big-fish seperti ikan paus, hiu, tuna, atau pari.

Karstnya bahkan terus membentang sampai ke pulau-pulau karst kecil nan cantik di laut Sulawesi, seperti kepulauan Derawan, Birah-birahan, atau Miang Besar. Sumber air karst bermunculan di pulau-pulau kecil tersebut, dan banyak sungai karst yang bermuara di dasar laut pesisir Sangkulirang-Mangkalihat. Pad daerah karst seperti itu, tak heran bila kehidupan dalam lautnya merupakan koloni terumbu karang yang dirindukan para penyelam dunia. Sepengalaman sya, kawasan karst Indonesia yang se-spektakuler Sangkulirang-Mangkalihat itu hanyalah daerah leher Kepala Burung-Raja Ampat di Papua.

Tak ada yang lebih mengharukan selain bertualang di pegunungan batu raksasa yang mempersona ini dengna menggunakan moda transportasi air. Dimulai dari pulau-pulau karst di pesisir, kemudian masuk ke sungai, dan akhirnya menuju hulu yang berlekuk-lekuk mengikis bebatuan karst. Pesisir, sungai, dan perahu adala hjiwa orang Sangkurilang-Mangkalihat. Mereka dibesarkan dalam budaya air dan perahu. Sungai-sungai itu juga dulu menjadi patokan utama bagi orang-orang prasejarah dalam ‘membangun’ cultural-landscape-nya.

Kekayaan Kawasan Karst

Ujung karst Mangkalihat adalah daerah big-fish mencari makan, sehingga kerap terlihat ikan paus sampai lumba-lumba.

Buaya Sungai khas pesisir Kalimantan Timur bermuka mirip buaya muara, hanya saja badannya pendek (2-3 meter). Orang lokal menyebutnya buaya kodok, karena dari kejauhan mirp kodok raksasa, dan ini spesies langka!

Orang utan, primata khas di kawasan ini terlihat lebih gelap dari orangutan lain di Kalimantan. Belum banyak yang mengetahui ada habitat orangutan di kawasan karst Sangkurilang.

Kebutuhan Walet dunia 80% bergantung pada kelestarian pegunungan karst yang disebut gunung batu oleh orang Dayak. “Liur emas” sarang burung walet berharga puluhan juta.

Imaji bersejarah Sangkurilang, Gambar cadas prasejarah ditemukan di kawasan karst Sangkurilang antara tahun 1994 sampai 2006. kemungkinang gambar cadas dibuat oleh kaum Austroasiatik, yang bermatapencaharian berburu, dan datang sekitar 12.000-9000 tahun lalu-saat Kalimantan masih bersatu dengan Asia, Jawa dan Sumatra. Gambar cadas Kutai Prasejarah yang berwarna merah dan ungu tua ini didominasi oleh imaji cap telapak tangan yang dibuat dengan cara semburan cat, baik lewat mulut maupun tulang binatang. Sedikitnya ada 2.000 cap tangan ditemukan tersebar pada 37 situs. Selain imaji cap tangan, situs bergambar Kutai prasejarah juga dipenuhi oleh imaji rusa bertanduk dan imaji geko (tokek,kadal, buaya). Imaji penting lain adalh sosok daun.

Izin masuk Kawasan Lindung Kars, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur, konatk: beni hermawan. Peta Kawasan bisa diperoleh di Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Timur, kontak: Irwan Fecho. Pemandu Gunung Gergaji (Bangalon): Tewet atau Ham dari kampung Bengalon. Gunung Tabang-Hulu dan Tintang: Isamail dari kampung Perondongan Dalam. Gunung Tablar atau Batu LepoQ: Masri dari kampung Tebangan Lembak km 10, Gunung Manubar: Andi Nurdin dari kampung Takat Manubar, Gunung Kulat: Agus dari kampung Merapun, Tarif pemandu minimal US$15 perh hari plus rokok, tarif porter minima US7,5 per hari, Tarif penginapan US$100 Transportasi per hari dengan menyewa mobil sebesar US$90, sewa perahun sampai US$60 tergantung rute.

This entry was posted in Teropong and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s