Stare Miasto

Stare Miasto, Kota yang Menolak Musnah

Stare MiastoTeks asli oleh Irma Tambunan, gambar dari google, disadur oleh Karlina

Stare Miasto adalah wujud cinta manusia kepada kotanya. Kota yang pernah hancur hampir tak bersisa akibat perang itu kembali utuh dalam 15 tahun. Perjuangan warganya membangun kembali kota ini, bata demi bata, menjadikannya sebagai kekaguman dunia.

Kami beruntung tinggal di kawasan Centrum, pusat Kota Warsawa. Segalanya menjadi lebih dekat. Termasuk untuk mencapai kota tua, yang dalam bahasa Polandia disebut Stare Miasto, resepsionis hotel meyakinkan kami untuk berjalan kaki saja sekitar 5 menit.

Udara dingin menyergap saat pintu terbuka. Di penghujung musim gugur itu, suhu rata-rata 5 derajat celcius. Gerimis dan tebalnya angin menyertai perjalanan kami siang itu. sudah pukul 14.00 waktu terasa kian sempit. Tidak lama lagi hari akan gelap. Matahari sudah akan terbenam sekitar pukul 16.00

Kami pun mempercepat langkah menyusuri sepanjang trotoar, melintasi bangunan-bangunan perkantoran dan apartemen bergaya komunis. Bangunan-bangunan itu sama tingginya satu sama lain.

Suasana mulai berbeda mendekati Stare Miasto. Bangunan-bangunan yang meski sama-sama saling berimpitan seperti di kawasan Centrum, tetapi di sini terlihat lebih tua. Sejumlah patung dan ornament gotik khas abad pertengahan mengisi keindahan kawasan tersebut.

Lega telah mencapai Stare Miasto, kami melambatkan langkah untuk menikmati kawasan tua yang sangat terawatt dan bersih itu. sebagian besar bangunan di Stare Miasto dulunya permukiman, kini dimanfaatkan sebagai restoran dan pertokoan. Hanya sebagia nkecil saja yang masih dijadikan tempat tinggal. Sejumlah gerai pakaian sedang menggelar diskon akhir musim gugur.

Musim Gugur

Menyusuri kota tua di musim gugur, waktu terasa amat cepat berlalu. Tanpa kami sadari, matahari mulai terbenam setiba di depan Royal Castle atau Zamek Krolewski, yang merupakan bekas kediaman Zygmut II Waza, Raja Polandia sejak abad ke 16.

Seorang pria paruh baya menunjukkan kami arah untuk menyusuri jantung kota tua. Pada saat itu, lampu-lampu sepanjang jalan mulai menyala. Tak seperti kekhawatiran kami sebelumnya bahwa kota ini akan seperti mati, suasana malah terlihat semakin menarik mengiringi langkah-langkah kami melewati bulevar kota, menuju sebuah lorong menyempit.

Katedral St. John tampak menjulang di antara bangunan-bangunan lainnya. Katedral yang dibangun dari bata-bata tua hingga setinggi 80 meter ini merupakan yang terbesar sekaligus kebanggaan Polandia, seiring ditetapkan sebagai bangunan warisan budaya yang dianggap penting oleh bdan dunia UNESCO. Setelah hancur 90 persen selama Perang Dunia II, St. John mengalami pemulihan beberapa kali kepada wujud aslinya.

Kehidupan menyala di Old Town Square atau Rynek Starego Miasto yang merupakan jantung kota ini. Kafe-kafe tua mengelilingi sebuah Syrenka, patung putrid duyung yang merupakan symbol Kota Warsawa. Syrenka diyuakini sebagai pelindung kota itu.

Kami terus menuju Benteng Barbakan, kompleks pertahanan yang juga berdinding bata tua yang tampak begitu menawan, membawa kita seperti benar-benafr berada di masa lalu. Benteng Barbakan meruapakan pertahanan Polandia dari invasi negara tetangga.

Benteng Barbakan inilah akhir dari perjalanan Stare Miasto . benteng setinggi 15 meter dengan lebar 14 meter memisahkannya dengan Nowe Miasto atau kota baru, Nowe Miasto sebenarnya juga telah dibangun pada abad ke-15. Pembangunannya hanay sedikit lebih belakangan dibandingkan Stare Miasto yang sudah ada pada awal abad ke-14.

Sebagaimana Katedral St. John, Benteng Barbakan dan hampir seluruh bangunan-bangunan di Stare Miasto ataupun Nowe Miasto luluh lantak selam masa perang dunia II. Kehancuran terparah  terjadai dalam pemberontakan Warsawa selama dau bulan di penghujung 1944. Penduduk local bergerilya menyelamatkan negeri mereka dari kekuasaan Jerman. Namun, tanpa bantuan sekutu mana pun, serangan mereka terpatahkan oleh pasukan Hitler yang tak memberi sedikit pun kemenangan bagi warga local. Amukan senjata dari sungai, darat, dan udara menghancurkan seluruh bangunan. Kehancuran kota mencapai 90 persen, serta 200.000 orang yang tewas sepanjang Agustus hingga Oktober.

Hampir Mati

Separuh lebih nayawa penduduk Polandia yang berjumlah 1,2 juta jiwa lenyap selama Perang Dunia II (1939-1945). Kota tua Warsawa menjadi lokasi rusak  terparah.

Kota ini hampir mati ketika perang berakhir. Namun, warga yang tersisa tidak tinggal diam dan berputus asa menyaksikan kehancuran kota mereka. Mengenang  akan keindahan yang pernah dimiliki, Dewan Tertinggi setempat memutuskan akan membangun kembali jantung kota Warsawa sesuai wujud semula. Seluruh proses pembangunan dimulai tahun 1949-sebagaimana terdokumentasi secar utuh di Museum Sejarah Warsawa yang terletak di tengah kota tua-dengan perencanaan dan desain ulang yang amat detail dan panjang hingga memakan enam tahun lamanya. Kegiatan pemulihan fisik kota tua baru berakhir pada tahun 1963, kecuali istana raja yang baru selesai pada 1970-an.

Yang mengesankan adalah bagaimana setiap bangunan direkortruksi ulang batu demi batu dengan amat teliti oleh penduduk yang sebagian merupakan korban tahanan perang. Keinginan besar mereka untuk menjadikan bangunan-bangunan yang terlihat seperti sekarang ini sesuai bentuk aslinya. Seluruh foto bangunan dikumpulkan. Setiap sketsa dibuat dengansangat detail. Bahkan hingga tahap pembangunan fisik, pendanaan murni berasal dari pemerintah dan sumbangan warga sipil. Tidak satu sen pun dana yang mengalir ke sana berasal dari luar negeri.

Dalam bukunya berjudul Kaia, Heroine of the 1944 Warsaw Rising (2012), penulis Aleksandra Ziolkowska-Boehm menceritakan kegigihan seorang tahanan perang yang menjadi arsitek rekonstruksi Stare Miasto. Kaia adala hlulusan studi psikologi. Wanita ini menjadi arsitek demi menyelamatkan ktoa tua dari kehancuran. Tidak hanya dirinya, pada mas sulit itu, seluruh warga juga bersama-sama memikirkan masa depan Warswa.

Selama mas pembangunan ulang kota, tidak semua bangunan direkonstruksi menurut aslinya. Ada sjumlah kecil bangunan yang aslinya terlihat buruk yang kemudian dibangun dengan wajah lebih menarik demi kepentingan pariwisata. Pemerintah menggalokasikan sepanjang bangunan di tepi jalan kota tua itu menjadi kafe dan restoran.

Wajaralah jika UNESCO menganugerahi kota tua Warsawa sebagai warisan budaya dunia. Penulis Malgorzata Baranowska dlam buku ilmiahnya, seperti dikutip Aleksandra, menyebut kota itu sebagai kota yang unik dan tiada bandingannya. Kota yang menolak musnah. Kota yang bangkit kembali. Kota yang genius. Satu tempat yang memiliki jiwa amat special, yang tidak dimiliki kota-kota lainnya. Kota dengan semangat kosmopolis berpadu dengan kesetiaan warganya (Kaia, 2012, Hal 111).

Lampu-lampu kuning sepanjang trotoar menghalangi langit yang telah menghitam. Sinarnya mengiringi langkah-langkah kecil meninggalkan kota tua dengan sebuah harapan agar Stare Miasto tetap berada dalam keutuhannya.

 

This entry was posted in city at glance and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s