Uji sake di ARASHIYAMA

arashiyamaOLEH Danie Satrio, disadur kembali oleh Karlina

Saya menuju arah barat dari pusat kota Kyoto. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit, saya tiba di kawasan Arashiyama – Sagano. Berada di kaki pegunungan. Arashiyama popular akan hutan bamboo, sungai, pegunungan, belasan kuil, serta kawasan desa dengan arsitektur bangunan yang nilai autentiknya terjaga selama ratusan tahun. saya hanya ingin mengingatkan, pelesir ke tempat ini janganlah sewaktu musim panas. Cuacanya betul-betul membuat gerah.

Menurut catatan, pelancong dapat menikmati keindahan alam Arashiyama dengan berbagai moda transportasi. Apabila ingin menikmati panorama sungai dapat memilih perahu. Sementara, jalan darat pun ada dua pilihan: bus atau kereta. Saya memutuskan memilih jalur air dan darat. Begitu bus yang saya tumpangi berhenti di Stasiun Kameoka, saya menumpang perahu mulai dari Sungai Hozugawa menuju Jembatan Togetsukyo, yang menjadi titik pertemuan utama turis di Arashiyama.

Pemandangan bantaran sungai telah memanjakan indra penglihatan saya selama sekitar dua jam. Biarpun tak fasih berbahasa Inggris, awak kapal saya terus saja bercerita tentang sejarah beberapa titik di sisi sungai yang dianggap sacral oleh penduduk setempat. Tak takut lapar atau haus selama perjalanan, sebab ada beberapa warung mengambang yang menyediakan camilan serta minuman dingin.

Tiba di titik akhir, saya memilih sepeda utnuk meneruskan penelusuran saya terhadap kawasan ini. Saya mengeluarkan 1000 yen dari kocek agar saya boleh menyusuri kawasan dengan kereta angin. Usai membereskan urusan sewa, saya segera mengamati gang yang di antara bangunan-bangunan berusia ratusan tahun.

Saya memutuskan berhenti di muka salah satu bangunan itu. Inilah salah satu sake brewery tertua yang ada di  Arashiyama. Berdiri sejak 1717, sake brewery bermerek Heart Land itu juga berfungsi pula sebagai restoran sekaligus klub jazz. Itu lantaran Ashimori-san, sang master brewer yang juga keturunan langsung pendiri Heart Land, adalah maniak jazz.

Indonesia? Saya punya ini…,” ujar pria berambut gondrong itu dengan bahasa Inggris seadanya, sembari menunjukkan CD “simak dialog”-salah satu band jazz papan atas Indonesia-koleksinya. “Saya suka music mereka. Mereka jenius?”

Ashimori lantas menagjak saya menjajal arak Jepang buatannya.

“kamu bisa lihat, semakin tua umur sake, warnanya semakin gelap mendekati warna wiski,” katanya sembari menuangkan arak dari berbagai usia pembuatan ke dalam gelas dan menyilakan saya mencoba satu per satu seraya menyamil penganan.

Ada lima gelas yang harus saya coba. Semakin tua usia sake, saya merasakan ‘tendangan’ alcohol yang makin kuat. “Hati-hati dengan yang ini,” ujar Ashimori-san seraya menunjuk gelas berisi sake berwarna gelap berusia sekitar 20 tahunan. Mungkin dia melihat wajah saya mulai memerah.

Benar saja, baru seteguk kecil, perut saya mulai bereaksi dan kepala ini serasa berputar kencang. Wah, saya menyerah! Saya terpaksa mengaku kalah pada sang ahli. Dia hanya tertawa memakluminya. Dari sini pula saya belajar bahwa sepeda, musim panas, dan uji sake, bukanlah paduan yang pas.

Untuk menetralisir pengaruh hebat sake di badan dan kepala, saya putuskan untuk menjajal Romantic Train. Inilah serangkaian kereta tua kang mondar-mandir di sepanjang tepian Sungai Hozu. Jalurnya kurang lebih serupa dengan perjalanan dengan perahu yang sudah saya jalani sebelumnya. Hanya pemandangannya saja yang sedikit berubah. Sudut pandang. Hehmm…boleh jadi pengaruh sake Heart Lane masih terlampau kuat. Jepang memang unik!

This entry was posted in journey and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s