Hari untuk pejalan kaki

Sepeda-motor-di-trotoar-JakartaDisadur oleh Karlina

ENRIQUE PENASOLA, wali kota Bogota, Kolombia (1998-2001), pernah mengungkapkan visinya tentang Negara maju. Kira-kira begin bunyinya, “Kota yang maju bukanlah tempat di mana yang miskin memiliki mobil, melainkan tempat di mana yang kaya mempergunakan transportasi public. Kota yang hebat bukan yang memiliki banyak jalan tol, melainkan tempat di mana anak-anak aman bersepeda ke mana saja, dengan trotoar yang luas untuk mengobrol, berbisnis, atau bermain.”

Satu tahun lalu, 22 Januari 2012, Indonesia berduka karena kecelakaan di Tugu Tani, Jakarta, yang membuat Sembilan nyawa pejalan kaki melayang. Peristiwa ini membuka mata kita tentang pentingnya keselamatan dan akses bagi pejalan kaki. Data korlantas kepolisian republic Indonesia mencatat 18 pejalan kaki tewas setiap harinya.

Akses untuk pejalan kaki di Indonesia, khususnya di Jakarta, amat memprihatinkan. Jakarta memiliki sekitar 7200 kilometer jalan raya, tetapi Cuma 900 kilometer yang dilengkapi trotoar. Dari seluruh trotoar tersebut, hanya 10% yang ramah bagi pejalan kaki. “Padahal, di berbagai kota, moda transportasi yang paling banyak digunakan adalah berjalan kaki. Di Jakarta sendiri 35% penduduknya menggunakan non-motorized transportation, seperti bersepeda dan berjalan kaki,” jelas pendiri koalisi Pejalan Kaki, Ahmad Safrudin.

Di banyak trotoar, pejalan kaki justru tergusur karena trotoar tertutup pot-pot tanaman, dilewati motor, dan dijadikan tempat berjualan pedagang kaki lima atau parkir kendaraan. Kondisi  trotoar yang terlalu sempit, banyaknya lubang-lubang, terbukanya penutup saluran air, dan sebagainya serta perilaku masyarakat Indonesia itu sendiri yang tidak pernah berdisiplin diri (walaupun mayoritas beragama).

Di samping itu, akses lain untuk pejalan kaki seprti jembatan penyeberangan orang (JPO) dan zebra cross pun tak digunakan sesuai fungsinya. JPO dijadikan tempat berjualan dan  “jalan pintas” motor. Pejalan kaki pun tidak diprioritaskan ketika ingin menyeberang lewat zebra cross.

Dilatar belakangi berbagai persoalan terkati akses untuk pejalan kaki dan lemahnya perlindungan hokum bagi pejalan kaki tersebut, koalisi pejalan kaki didukung Road Safety Association (RSA) mendeklarasikan usulan untuk menjadikan 22 Januari-tepat pada momentum tragis tewasnya Sembilan pejalan kaki di Tugu Tani-sebagai hari Pejalan Kaki Nasional. Deklarasi ini juga menuntut agar berbagai pihak, khususnya pemerintah menempatkan berjalan kaki sebagai moda transportasi utama dalam hirarki perjalanan mobilitas urban dan membangun fasilitas pejalan kaki sesuai dengan standar universal.

Dengan aksi dan usulan ini, diharapkan masyarkat dan pemerintah sesuai dengan kapasitasnya dapat bersama-sama mewujudkan kota yang lebih aman dan nyaman untuk ditinggali.

selanjutnya anda bisa log in mengenai avontur,traveling, adventure, cultural di : AvonturGuideBlogspot.Com

This entry was posted in city at glance and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hari untuk pejalan kaki

  1. Pingback: New York | nykarlina

  2. Pingback: Kisah Kasih Ibu di Dunia | nykarlina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s