YERUSALEM

Image

Oleh Gama Harjono, disadur kembali oleh Karlina

Sejarah tanah suci terbentuk oleh politik dan keyakinan. Kota ini pun menjadi tujuan pesiar yang istimewa.

“Saya agen keamanan. Tujuan anda di Israel?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir yang berpoles lipgloss.

Lepas tengah malam, perempuan berusia sekitar 20 tahun itu menyambut saya di jembatan pesawat. Saya bahkan belum menapak lantai Bandar Udara International Ben Gurion, Tel Aviv.

“Oh, untuk mengunjungi Tanah Suci,” saya menjawab dengan nada meyakinkan, meski mengantuk. Pandangan perempuan itu menyidik. Di sisinya, dua kolega mencari otot wajah yang berbohong, layaknya teknik yang digunakan agen rahasia. Misi mereka hanya satu: menggagalkan upaya terorisme di Israel.

Negara ibrani pertama dalam dua melinium terakhir ini memang bukan tujuan pesiar biasa. Di kawasan ‘panas’ ini, kata pariwisata harus berbagi tempat dengan politik dan konflik. Tak heran pemerintah setempat mengendalikan lalu lintas manusia secara sangat ketat. Alhasil, saya menghadapi rentetan pertanyaan yang sama di kotak imigrasi berikutnya. Setengah jam barulah proses imigrasi selesai. Mereka yang ‘lolos’ diberi cap stiker yang harus diserahkan kepada petugas di pintu luar. Di sini, saya menghela lega.

Rupanya, saya tiba pada saat warga bersiap merayakan Sabat. Inilah pertama kali dalam hidup. Ada banyak hal baru yang saya pelajari. Saya pun mencoba memahami maknanya. Satu jam sebelum matahari terbenam, bus dan kereta telah berhenti beroperasi. Akibatnya, saya harus berjalan kaki menuju kota tua Jerusalem-yang dialiri mata air di batas gurun.

Matahari keemasan semakin menggantung rendah. Jaffa Street memanjang dari permukiman baru hingga tembok kota lama. Aktiivitas warga bergitu hiruk pikuk. Saya berhenti di pasar tradisional Jaffa Center. Suasananya bak hari raya: pembeli menyerbu lapak buah, warga memborong telur, roti, dan makanan kaleng. Pedagang ayam tak mau kalah, berteriak menjajakan dagangan.

“Ada yang tahu berapa umur Jerusalem? Tanya Dvir di kaki tembok benteng. Pemuda murah senyum ini memandu kami-12  orang berbeda bangsa-berwisata di kota lama. Kami akan melintasi lorong-lorong bersejarah.

Jawabannya, tak kurang 3.000 tahun. Kota yang menjadi sumber ketegangan di atas dataran tinggi gunung Moriah ini ternyata lebih uzur dari agama-agama besar. “Penguasa Jerusalem silih berganti: Persia, Yunani, kaum Kristen, Muslim, Kristen, Muslim,” jelas Dvir. “Kalau beruntung, penguasa yang baru berlaku adil. Tetapi mereka bisa juga mengusir atau membinasakan minoritas.” Israel mengambil alih kota lama dari Yordania dalam perang enam hari tahun 1967. Pada saat itu orang Yahudi berkumpul untuk berdoa di dinding barat. Israel yang takut akan kemarahan warga muslim, segera mengembalikan sisa kompleks kepada mereka yang menganggap Haram Al-Sharif sebagai tempat ibadah.

Dvir memulai tour dari Gerbang Jaffa. Letaknya, tak jauh dari Menara Daud. Namun kini lokasi menara-menara klasik maupun “Bait pertama dan Kedua,” Gunung Kuil (Pertama dan Kedua), bangunan suci bagi bangsa Yahudi-tak lagi jelas. Saya justru mendapati bekas-bekas lubang seukuran pelor di dinding menara. Begitulah, sisa-sisa atas semua masalah yang memecah bangsa Israel dan Palestina-yang paling gampang meletus adalah persoalan kekuasaan tertinggi di Gunung Moriah.

Kami menjelajahi satu per satu permukiman di wilayah yang terbentuk sebagai medan laga yang terakhir bagi kemuliaan Tuhan dalam pelbagai tradisi Yahudi, Kristen, dan Muslim itu. Awalnya saya menduga hanya ada tiga permukiman-berdasarkan bangsa yang menguasainya. Ternyata ada yang keempat: Armenia.

“Kalian tahu, bangsa Armenia adalah pemeluk Kristen pertama,” ucap pemuda ramah ini bombastis. Sontak, wajah-wajah bingung mendesak penjelasan. Bukankah Kristen dibawa ke Eropa oleh bangsa Romawi? “jangan salah, Raja Tiridates yang agung menjadikan Kristen agama Negara di Armenia. Mereka adalah bangsa pemeluk Kristen pertama di dunia.”

Lantas, Dvir kembali berkomentar, “We stay inside. We don’t expand, but you don’t come in.” ia merujuk pada permukiman Armenia yang berjuluk “the hush-hush quarter.” Bangsa Armenia bermukim di kompleks tertutup dengan pintu halaman setinggi tak lebih dari semester. Mereka tak mengizinkan orang asing masuk dan melakukan perkawinan “internal” terhadap sesame kaum. Dengan cara seperti ini mereka berhasil “bertahan hidup” di antara kaum mayoritas. Selama 1.700 tahun, bangsa Armenia menjadi “penyeimbang” di antara ketegangan Yahudi, Kristen, dan Muslim.

Kami melanjutkan tour, menuju pemukiman Yahudi. Pada hari Sabat, alun-alun utama terlihat santai. Warga ortodoks duduk-duduk di taman, keluaraga mendorong kereta bayi melintasi sinagoga Hurva yang direkonstruksi dalam tempo 10 tahun.

“Ironis bukan, Hurva yang artinya ‘reruntuhan’ adalah sinagoga yang diresmikan tahun 2010. Seluruh permukiman ini dibuldozer oleh Yordania dan dibangun kembali oleh warga Yahudi.” Dvir lalu menjelaskan Perang Enam hari dan bentrokan berdarah lainnya. Sulit membendung air mata saat membayangkan derita manusia memperebutkan kota suci ini.

Infrastruktur di sini berstandar dunia. Seluruh lorong di kota tua ini apik, berlampu dan diberi papan petunjuk dalam tiga bahasa: Ibrani, Arab, dan Inggris. Militer dan polisi bersenapan berjaga dititik strategis, serta ratusan CCTV merekam setiap sudut. “Kalian masih berpikir kota yang paling ‘terkabel’ adalah London?” Tanya Dvir seraya menunjuk ke arah timur.

Dvir lantas menunjuk ke arah timur. Pemandangan 360 derajat memukau. Di luar tembok kota tampak Mount of Olives, satu lokasi suci bagi agama-agama utama. Konon Yesus menagis di puncak bukit itu seraya menujum keruntuhan Bait Kedua Yahudi. Sedangkan di dalam tembok kota, di kaki Masjid Al-Aqsa, Taman Arekeologi Jerusalem memamerkan reruntuhan pilar Romawi, saksi bisu kejayaan kota ini di era klasik.

Di pemukiman Yahudi ada penggalian arkeologi, sisa-sisa cardo alias jalanan Romawi yang memanjang dari utara ke selatan. “Karena ini daerah pemukiman, galian bawah tanah dibatasi,” tambah Dvir. Memang di bawah tanahlah Yerusalem menyembunyikan rahasianya. Ada terowongan bekas saluran air Bait Kedua Yahudi ari era Herod-raja Yahudi yang menyerukan pembunuhan seluruh bayi guna mencegah kejayaan Yesus Kristus. Lantaran begitu populernya, pemesanan tour terowong ini harus beberapa bulan sebelumnya.

Kami berada di tepat di jantung Jerusalem. Saya tak dapat menyaksikan keindahan mosaic Qubbat As-Sakrah (Dome of the Rock), karena tertutup untuk warga non-Muslim. Situs paling suci ketiga bagi kaum Muslim ini mampu bertahan dari gempa bumi yang merobohkan Masjid Al-Aqsa dan bangunan lainnya. Mahakarya bersegi delapan ini menjulang di atas batu gamping Gunung Moriah.

Qubbat As-Sakhrah dibangun pada 691 M, lalu segera diikuti oleh Masjid Al-Aqsa. Kaum Muslim mulai menghormati temapt ini sebagai tempat Nabi Muhamad memulai perjalanan ke surga dalam Miraj. “Tempat yang sama juga diyakini lokasi Bait Suci Yahudi, kiblat berdoa bagi orang Yahudi,” sebut Dvir.

“Apakah ada konflik antara Yahudi dan Muslim?” Tanya peserta tour asal Swedia. Dahi Dvir berkerut. Kemampuan diplomasinya diuji. “Saat ini tidak ada bentrokan di pemukiman. Anda tahu, sekarang orang lebih sibuk mencari penghasilan.”

Begitu tiba di Dinding Barat atau Tembok Ratapan, saya menjumpai kertas-kertas terselip di antara retakan tembok. Pemeluk Ibrani percaya, Tuhan membaca pesan-pesan yang dituliskan di kertas-kertas itu. Beberapa warga Yahudi berdoa khusyuk dan sesekali bergoyang depan-belakang, seperti kondisi trance. “Maksud Anda Shuckling?” Tanya Dvir. “Oh, itu masalah ekspresi, setiap orang punya gaya sendiri, ada yang menggoyang kepalanya.” Rupanya, shuckling dipercaya oleh warga yahudi meningkatkan intensitas berdoa.

Pada pukul 13:40, prosesi pemberkatan anggur dimulai. Barisan laki-laki dan perempuan memisah kiri dan kanan. Tanpa ba-bi-bu, seorang rabi berbadan subur mengucap doa pemberkatan anggur dalam bahasa Ibrani.

Terjemahan sesekali diberikan oleh seorang Yahudi ultra ortodoks beraksen Amerika. “Shalom! We see the land of Israel is such a holy place. If you come to Israel, you take a piece of its essence. Bring openness! Lalu dari bibir-bibir yang tak tampak berkumandang, “Amen.”

Ibu-ibu berkerudung membuka kantong plastic, membagikan kacang dan kue-kue. Seorang laki-laki bercambang panjang menuang anggur dan minuman ringan untuk siapa pun. Bersama mereka, saya ikut makan dan minum. Bukan karena lapar dan haus. Saya menghargai gesture berbagi-sekecil apapun itu.

Melintasi pemukiman Muslim, perhatian kami teralih pada souvenir yang unik di sepanjang David Street. Selain yang paling besar, kawasan ini juga yang paling padat dan ramai. Bayangkan 25.000 jiwa bermukim di antara kios, lapak, rumah makan, dan minaret yang sesekali mengintip di antara deretan kain dan miniature gantungan kunci.

“Tahukah di mana kita berada?” Tanya Dvir sambil mellirik salib-salib yang menggantung di sisi gereja. “Via Dolorosa?” jawab seseorang . Dvir mengangguk. Tepatnya, kami tengah berada di stasiun (titik penanda) ke-sembilan. Bagi umat Kristen, Via Dolorosa (Jalur Sengsara) adalah tujuan ziarah penting melalui 14 stasiun di mana Yesus berhenti sebelum disalib.

Berbelok di tikungan Gereja St. Helena, Dvir tampak serius, “Anda lihat lapangan semen ini? In isebenarnya atap gereja. Jerusalem begitu kecil, setiap jengkal begitu berharga.” Seorang pendeta Ethopia berjubah hijau abu-abu dengan setia duduk di atap gereja. Etiopia yang lebih terkenal akan masalah kekurangan pangan ternyata komunitas signifikan di kota tua. “jatah” masyarakat Kristen Etiopia memang hanya atap. Namun jangan salah, inilah atap Gereja Saint Sepulchre. Kabarnya Yesus disalib di tempat ini.

Keunikan gereja ini adalah nilai universalnya. Pada masa Perang Salib, para ksatria datang dari Eropa demi menguasai kembali tempat ziarah tersebut. Kini, altarnya didedikasikan pada berbagai aliran Kristen. Sejak abad ke-12, kunci gereja dijaga oleh keluarga Muslim atas perintah Sultan Saladin-yang mengizinkan orang Kristen dan Yahudi tinggal di kota.

Dari atap, kami melewati altar demi altar yang menghitam dimakan asap dupa. Pendeta berjubah gergeming berjaga di sudut. Antrean tampak mengular di altar Penyaliban Kristus. Sedangkan, di atas Batu “Unction” perempuan dan laki-laki berbagai kulit warna langsung bersimpuh dan mengumandangkan doa dalam senyap. Konon di tempat ini jenazah Kristus disiapkan untuk pemakaman.

Matahari pelahan mendekati ufuk. Kubah Gunung Kuil yang tersohor itu memancar seperti sinar emas abadi. Saya merasa harus “mendaur ulang” sensasi yang melimpah. Bagi saya, dari banyak kota-kota lainnya, Al-Quds atau Yerushalayim adalah yang paling istimewa. Di sini perikemanusiaan menyatukan-sekalian memisahkan-anak manusia.

Ah, itu dia, sayup-sayup azan mengumandang dari salah satu minaret. Saya terkejut, azan bisa disiarkan ke penjuru kota, meskipun sekelilingnya ada pirouette gereja dan kubah sinagoga. Saya tersenyum penuh harapan. Begitulah, dao dan impian memenuhi di langit di atas Jerusalem.

Bukan sekadar destinasi biasa

IZIN MASUK, Jerusalem dan Tepi Barat secara de facto dikuasai oleh Israel. Pelancong Indonesia memerlukan paspor dan visa Israel. Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatic. Visa biasanya diproses oleh agen perjalanan yang menawarkan paket wisata religi. Selain itu, anda dapat menghubungi perwakilan Israel di Singapura, Singapore.mfa.gov.il.  Situs turisme goisrael.com. Pemeriksaan di Israel sangat ketat. Militer dan polisi mengecek dokumen di jalan. Masuk tempat umum melalui pengecekan mesin detector dan Sinar-X. siapkan waktu, minimal tiga jam, sebelum keberangkatan pesawat. Bandara Ben Gurion memiliki prosedur tetap: interograsi, bongkar koper, dan pemeriksaan badan.

IKLIM ISRAEL,. Relatif hangat sepanjang tahu. Musim dingin Desember-Februari. Waktu terbaik berkunjung Maret-Oktober. Hindari September, bulan penuh hari raya Yahudi, di mana layanan umum berhenti dan museum tutup.

WAKTU ISRAEL,.GMT+2.

MATA UANG,. Israel New Shekel (INS). Penukaran uang dapat dilakukan di bandara.

IMIGRASI,. Di perbatasan Israel, dapat meminta cap di formulir terpisah. Cap Israel di paspor tidak memungkinkan masuk negera seteru Israel: Libanon, Suriah dan Arab Saudi.

TRANSPORTASI; jalur bus Israel antara lain dilyani EGGED (egged.co.il/eng) serta DAN (dan.co.il/English), mulai INS 24. Juga tersedia Israel Railways ke Tel Aviv (rail.co.il, mulai INS 15). Transportasi di Tepi Barat dilayani EGGED dan bus privat (terminal dekat Damascus Gate). Transportasi ke Bethlehem, Ramallah, Hebron, Nablus terbatas dan melalui titik pemeriksaan militer Israel. Hubungi pusat informasi di Gerbang Jaffa, Jerusalem, untuk informasi terkini sebab akses Tepi Barat tergantung kondisi dan status darurat oleh pihak Israel. Perjalanan ke jalur Gaza khusus personel organisasi perdamaian.

AKOMODASI: Hostel Abraham (abrahamhostels.com, mulai INS82); Hotel Al-Hashimi (www.hashimihotel.com, mulai INS 125); Austrian Hospice (www.austrianhospice.com, mulai INS 500).

This entry was posted in journey and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s